Saat sebagian besar warga Surabaya masih terlelap, aktivitas sudah dimulai lebih dahulu di sebuah pabrik tua di kawasan Dinoyo.
Asap tipis mengepul dari tungku sejak pukul tiga dini hari, sementara para pekerja mulai mengolah kedelai menjadi tahu seperti yang telah mereka lakukan selama puluhan tahun.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi dan kenaikan harga bahan baku, pabrik tahu ini tetap bertahan menjalankan rutinitasnya.
Bagi banyak pelanggan, tahu dari tempat ini bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari keseharian yang sudah hadir lintas generasi.
Pabrik tersebut adalah UD Sumber Kencana, salah satu pabrik tahu legendaris di Surabaya yang berdiri sejak tahun 1952.
Selama lebih dari tujuh dekade, usaha keluarga ini terus memasok tahu ke pasar tradisional, pedagang keliling, hingga pelanggan setia di berbagai sudut kota, namun memasuki tahun 2026, tantangan yang mereka hadapi tidak ringan.
Harga kedelai sebagai bahan baku utama mengalami kenaikan cukup tajam akibat gejolak global, nilai tukar dolar, dan ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor.
Pemilik usaha, Riani, mengungkapkan bahwa harga kedelai yang sebelumnya berada di kisaran Rp8.300–Rp8.600 per kilogram melonjak menjadi sekitar Rp10.350 per kilogram hanya dalam beberapa bulan.
Namun alih-alih mengurangi kualitas atau mengecilkan ukuran tahu, ia memilih mempertahankan standar produksi yang selama ini menjadi ciri khas usahanya.
Menurutnya, kepercayaan pelanggan yang dibangun selama puluhan tahun jauh lebih berharga daripada keuntungan sesaat.
Di berbagai daerah, kenaikan harga kedelai bahkan menyebabkan sebagian pelaku usaha tahu dan tempe mengurangi produksi atau menaikkan harga jual.
Sejumlah pedagang di Surabaya juga mengeluhkan turunnya daya beli masyarakat setelah harga tahu dan tempe ikut naik.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya dirasakan produsen, tetapi juga pedagang hingga konsumen akhir.
Di tengah situasi sulit tersebut, secercah harapan datang dari tambahan permintaan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Meski jumlah pesanannya tidak besar dan tidak setiap hari, pesanan tersebut membantu menjaga perputaran produksi tetap berjalan.
Bagi usaha yang telah bertahan lebih dari 70 tahun, setiap pesanan memiliki arti penting untuk menjaga dapur tetap menyala dan para pekerja tetap memiliki penghasilan.
Kisah UD Sumber Kencana menjadi gambaran bagaimana usaha pangan tradisional bertahan menghadapi tekanan zaman.
Ketika harga bahan baku naik, biaya produksi meningkat, dan persaingan semakin ketat, mereka tetap memilih menjaga kualitas.
Di balik sepotong tahu yang sederhana, tersimpan perjuangan panjang sebuah usaha keluarga yang terus bertahan demi pelanggan, pekerja, dan tradisi yang sudah dijaga sejak 1952. (EN)***
























Leave a Reply