Daging Bukan Satu-Satunya Biang Kolesterol, Ternyata Ada Penyebab Lain yang Sering Diabaikan

Banyak orang langsung menyalahkan daging saat kolesterol naik. Padahal, kebiasaan sehari-hari justru bisa menjadi penyebab yang lebih besar.

Akun Instagram @idntimes

Setelah Idul Adha, tidak sedikit orang mulai khawatir dengan kadar kolesterol karena mengonsumsi lebih banyak daging dari biasanya.

Bahkan, daging sapi dan kambing sering dianggap sebagai penyebab utama kolesterol tinggi padahal, para ahli kesehatan menjelaskan bahwa kolesterol tinggi tidak hanya dipengaruhi oleh konsumsi daging.

Ada banyak faktor lain yang justru sering luput dari perhatian dan dapat memberikan dampak yang sama besar, bahkan lebih besar, terhadap kadar kolesterol dalam darah.

Daging memang mengandung kolesterol dan lemak jenuh, terutama pada bagian yang berlemak namun, kolesterol tinggi umumnya terjadi karena kombinasi berbagai faktor.

Salah satu penyebab terbesar adalah pola makan yang tinggi lemak jenuh dan lemak trans, yang tidak hanya berasal dari daging.

Gorengan, makanan cepat saji, biskuit, kue kemasan, mentega, dan berbagai makanan olahan juga dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam tubuh.

Selain pola makan, kurangnya aktivitas fisik juga menjadi faktor penting, saat tubuh jarang bergerak, kadar kolesterol baik (HDL) cenderung menurun, sementara kolesterol jahat dapat meningkat.

Karena itu, seseorang yang rutin berolahraga meskipun sesekali mengonsumsi daging dalam jumlah wajar sering kali memiliki profil kolesterol yang lebih baik dibanding orang yang jarang bergerak dan banyak menghabiskan waktu duduk.

Faktor berikutnya adalah kelebihan berat badan atau obesitas yang dimana ketika berat badan meningkat, tubuh cenderung mengalami gangguan metabolisme yang memengaruhi kadar lemak dalam darah.

Kondisi ini sering disertai peningkatan trigliserida dan kolesterol jahat bahkan, banyak kasus kolesterol tinggi lebih erat kaitannya dengan pola makan berlebihan dan obesitas dibanding konsumsi daging semata.

Merokok dan konsumsi alkohol berlebihan juga berperan dalam meningkatkan risiko kolesterol tinggi bahkan merokok diketahui dapat menurunkan kadar kolesterol baik (HDL) yang sebenarnya berfungsi membantu membersihkan kolesterol berlebih dari pembuluh darah.

Sementara itu, konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan kadar trigliserida yang turut memperburuk kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Yang tidak kalah penting adalah faktor genetik. Sebagian orang memiliki kecenderungan kolesterol tinggi yang diturunkan dalam keluarga.

Dalam kondisi tertentu, tubuh kesulitan membuang kolesterol dari darah meskipun pola makan sudah cukup sangat baik.

Selain itu, penyakit seperti diabetes, hipotiroidisme, dan gangguan ginjal juga dapat memengaruhi kadar kolesterol seseorang.

Karena itu, menyalahkan daging sebagai satu-satunya penyebab kolesterol tinggi tidak sepenuhnya tepat tetapi mengonsumsi daging dalam jumlah wajar masih bisa menjadi bagian dari pola makan seimbang.

Yang lebih penting adalah menjaga pola hidup secara keseluruhan, mulai dari mengatur asupan makanan, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, hingga menghindari rokok.

Dengan cara tersebut, risiko kolesterol tinggi dapat ditekan tanpa harus sepenuhnya menghindari daging. (EN)***