
BANGUN IDE – Belakangan ini Tokyo mengalami suhu panas tinggi selama 10 hari berturut-turut. Menurut laporan cuaca setempat suhu panas ini sudah terjadi sejak bulan Juni dan Juli, pemerintah setempat menghimbau masyarakat dan turis untuk mencari tempat berteduh ketika beraktivitas di luar ruangan untuk menghindari heatstroke.
Badan Meteorologi Jepang menyampaikan kepada AFP bahwa untuk pertama kalinya sejak pencatatan dimulai pada tahun 1875, negara tersebut mengalami rangkaian panas ekstrem selama 10 hari berturut-turut, yang bertepatan dengan hari Rabu.
Fenomena ini muncul setelah hujan deras melanda sebuah kota di Pulau Hokkaido pada Selasa lalu. Menurut NHK, Toyotomi menerima curah hujan setara rata-rata sebulan hanya dalam waktu 12 jam.
Di Prefektur Yamaguchi, tepatnya di Kota Hagi, hampir 400 rumah tangga diminta mengungsi karena meningkatnya ancaman tanah longsor, tambah NHK.
Tahun ini Jepang mencatat bulan Juni dan Juli terpanas sejak pencatatan dimulai pada 1898. Bahkan, pada bulan Agustus, suhu tertinggi dalam sejarah tercapai di Kota Isesaki, Prefektur Gunma, yakni 41,8 derajat Celsius.
Pemerintah Jepang pun mengimbau masyarakat untuk berlindung di ruangan berpendingin udara selama musim panas guna mencegah heatstroke. Peringatan ini khususnya ditujukan bagi kelompok lanjut usia, yang sangat rentan karena Jepang memiliki populasi tertua kedua di dunia setelah Monako.
Data dari Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana menunjukkan bahwa lebih dari 8.400 orang harus dirawat di rumah sakit pekan lalu akibat gelombang panas, dan 12 orang di antaranya meninggal dunia.
Dampak pada kesehatan dan produktivitas juga menjadi perhatian serius. Musim panas tahun lalu menyamai rekor terpanas tahun 2023, diikuti dengan musim gugur terhangat sejak pencatatan dimulai 126 tahun lalu.
Para ahli memperingatkan bahwa pemanasan global membuat bunga sakura mekar lebih awal atau bahkan gagal mekar karena musim gugur dan musim dingin tidak cukup dingin untuk memicu proses pembungaan.
Fenomena lain adalah hilangnya tutupan salju di Gunung Fuji yang berlangsung paling lama dalam catatan sejarah, baru muncul pada awal November tahun lalu, padahal biasanya terjadi pada awal Oktober.
Kenaikan suhu global tidak berlangsung merata di seluruh dunia. Berdasarkan data Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA), Eropa mengalami peningkatan suhu tercepat per dekade sejak 1990, diikuti oleh Asia.
PBB juga mengingatkan bahwa kenaikan suhu global membawa dampak serius bagi kesehatan dan produktivitas tenaga kerja, terutama pekerja sektor pertanian, konstruksi, dan perikanan.
Laporan gabungan badan kesehatan dan iklim PBB menyebutkan bahwa produktivitas tenaga kerja menurun 2–3 persen untuk setiap kenaikan suhu satu derajat di atas 20°C. (ALF)***























Leave a Reply