Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering, Kementan Siapkan Teknologi agar Panen Tetap Aman

Ancaman kekeringan mulai diantisipasi. Pemerintah menyiapkan benih tahan kering hingga teknologi hemat air agar hasil panen tidak turun drastis.

Pexels/Dibakar Roy

Musim kemarau tahun 2026 mulai menjadi perhatian pemerintah dari sejumlah wilayah, curah hujan diperkirakan menurun dan masa kering disebut berpotensi berlangsung lebih panjang dibanding biasanya.

Situasi ini membuat sektor pertanian harus bergerak lebih cepat agar hasil panen tidak ikut terdampak maka, Kementerian Pertanian mulai memperkuat penggunaan teknologi pertanian adaptif untuk membantu petani menghadapi musim kemarau tanpa kehilangan produktivitas.

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan memasuki musim kemarau sejak April hingga Juni 2026.

Bahkan, beberapa daerah diprediksi mengalami musim kering yang lebih panjang dengan curah hujan yang di bawah normal.

Kondisi seperti ini tentu menjadi tantangan bagi petani, terutama untuk tanaman pangan yang membutuhkan ketersediaan air cukup sepanjang masa tanam.

Sebagai langkah antisipasi, Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) mulai memperluas penerapan teknologi adaptif di berbagai provinsi.

Pemerintah mendorong penggunaan varietas tanaman tahan kekeringan, pengelolaan air yang lebih efisien, hingga pola budidaya yang disesuaikan dengan kondisi lahan kering.

Tujuannya sederhana: memastikan produksi pangan tetap berjalan meskipun pasokan air tidak sebanyak biasanya ketika musim kemarau nanti

Salah satu langkah yang banyak disorot adalah penggunaan varietas padi dan tanaman pangan yang lebih tahan terhadap kondisi minim air.

Pemerintah merekomendasikan sejumlah varietas seperti Inpago, Inpari, Situbagendit, Situpatenggang, hingga Cakrabuana yang dinilai tetap mampu berproduksi ketika kekeringan mulai terjadi.

Selain itu, di beberapa wilayah juga mulai diperkenalkan benih jagung yang lebih adaptif terhadap lahan dengan pasokan air terbatas.

Tidak hanya benih, teknologi hemat air juga menjadi perhatian utama yaitu salah satunya melalui metode Alternate Wetting and Drying (AWD) atau sistem pengairan berselang.

Cara ini membuat sawah tidak terus-menerus tergenang, tetapi diatur agar air digunakan lebih hemat tanpa mengurangi hasil panen secara signifikan.

Pada lahan kering, pemerintah juga mengenalkan sistem Larikan Gogo Super (Largo Super) yang mengombinasikan pola tanam, pupuk, bahan organik, dan pengendalian tanaman secara lebih efisien.

Bagi petani, perubahan cuaca bukan lagi hal baru, namun musim kemarau panjang tetap menjadi tantangan karena bisa memengaruhi jumlah produksi dan biaya tanam.

Karena itu, pemerintah berharap teknologi pertanian musim kemarau 2026 tidak hanya berhenti di tingkat kebijakan, tetapi benar-benar diterapkan di lapangan melalui pendampingan penyuluh dan dukungan daerah.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilannya tetap sederhana: sawah tetap produktif dan pasokan pangan masyarakat tidak terganggu saat musim kering datang.(EN)***