Minum Air Sekaligus Banyak Saat Berbuka? Ternyata Tidak Efektif Cegah Dehidrasi Tubuh

Minum banyak saat berbuka belum tentu cegah dehidrasi. Simak cara efektif menjaga hidrasi saat puasa.

Pexels/Lisa from Pexels

Setelah seharian menahan haus, banyak orang langsung minum air dalam jumlah besar saat berbuka puasa.

Sensasi segar memang terasa instan, tetapi muncul pertanyaan penting: apakah minum air sekaligus banyak saat berbuka benar-benar efektif mencegah dehidrasi saat puasa?

Jawabannya tidak sesederhana yang dibayangkan.

Selama kurang lebih 12–14 jam berpuasa, tubuh mengalami penurunan asupan cairan.

Cairan tetap keluar melalui keringat, urin, dan pernapasan.

Ketika waktu berbuka tiba, tubuh memang membutuhkan penggantian cairan.

Namun, sistem pencernaan dan ginjal memiliki kapasitas penyerapan yang terbatas.

Minum air terlalu banyak dalam satu waktu tidak otomatis membuat tubuh langsung terhidrasi optimal.

Tubuh menyerap cairan secara bertahap melalui usus halus.

Jika terlalu banyak air masuk dalam waktu singkat, sebagian akan langsung diproses ginjal dan dikeluarkan sebagai urin.

Akibatnya, hidrasi tidak maksimal dan Anda mungkin lebih sering buang air kecil setelah berbuka.

Ini menunjukkan bahwa minum berlebihan sekaligus bukan strategi terbaik untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh selama Ramadhan.

Selain kurang efektif, kebiasaan ini juga dapat memicu rasa tidak nyaman pada lambung.

Perut yang kosong sepanjang hari tiba-tiba menerima volume cairan besar bisa menyebabkan kembung atau mual.

Pada sebagian orang, hal ini bahkan memicu gangguan pencernaan ringan.

Oleh karena itu, pola minum saat puasa sebaiknya dilakukan secara bertahap dan teratur.

Strategi yang lebih disarankan adalah membagi konsumsi air sejak berbuka hingga sahur.

Banyak ahli menyarankan pola 2-4-2, yaitu dua gelas saat berbuka, empat gelas setelah makan malam hingga sebelum tidur, dan dua gelas saat sahur.

Cara ini membantu tubuh menyerap cairan secara perlahan sehingga risiko dehidrasi saat puasa dapat ditekan.

Selain jumlah, kualitas cairan juga penting.

Air putih tetap menjadi pilihan utama untuk mencegah dehidrasi.

Minuman tinggi gula saat berbuka justru dapat meningkatkan rasa haus keesokan harinya karena memicu peningkatan kadar gula darah.

Elektrolit alami dari buah seperti semangka atau jeruk juga dapat membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh.

Dehidrasi saat puasa biasanya ditandai dengan mulut kering, urine berwarna pekat, pusing, dan lemas.

Jika tanda ini sering muncul, kemungkinan pola minum belum optimal.

Mengatur waktu minum dengan baik jauh lebih efektif dibandingkan mengonsumsi air dalam jumlah besar sekaligus.

Puasa tidak harus membuat tubuh kekurangan cairan.

Dengan manajemen hidrasi yang tepat, keseimbangan cairan tetap terjaga dan aktivitas harian berjalan lancar.

Jadi, alih-alih langsung menghabiskan banyak air saat azan maghrib, lebih baik minum secara bertahap agar manfaatnya maksimal bagi tubuh. (FIR)***