Praktik mengeringkan padi di pinggir jalan masih menjadi kebiasaan umum di banyak sentra pertanian Indonesia.
Bagi petani skala kecil, metode ini dianggap sebagai solusi cepat dan murah untuk menurunkan kadar air gabah sebelum proses penggilingan.
Namun di balik efisiensi biaya tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah pengeringan padi di tepi jalan aman bagi kualitas dan keamanan pangan?
Secara teknis, proses pengeringan padi bertujuan menurunkan kadar air gabah hingga sekitar 14 persen agar tahan simpan dan tidak mudah terserang jamur.
Tanpa pengeringan yang optimal, gabah berisiko mengalami kerusakan, penurunan mutu, hingga pertumbuhan mikroorganisme berbahaya.
Dalam praktik tradisional, aspal jalan menjadi “lantai pengering” alami yang mudah diakses, luas, dan terkena sinar matahari langsung sepanjang hari.
Dari sisi efisiensi, metode ini memang membantu petani menghemat biaya sewa lantai jemur atau mesin pengering.
Prosesnya sederhana: gabah ditebar tipis, dibalik secara berkala, lalu dikumpulkan kembali saat kadar air dirasa cukup rendah.
Bagi wilayah dengan intensitas matahari tinggi, cara ini mampu mempercepat proses pascapanen tanpa investasi besar.
Namun, risiko kontaminasi tidak bisa diabaikan. Jalan raya merupakan area dengan lalu lintas kendaraan bermotor yang menghasilkan debu, logam berat, serta residu polutan.
Partikel dari knalpot dan gesekan ban berpotensi menempel pada gabah yang sedang dijemur.
Selain itu, kontaminasi fisik seperti pasir, kerikil, dan sampah mikro juga sering tercampur tanpa disadari.
Kontaminasi ini dapat berdampak pada kualitas beras setelah digiling.
Selain memengaruhi warna dan kebersihan, paparan polutan jangka panjang berpotensi menurunkan standar keamanan pangan.
Dalam konteks ketahanan pangan, kualitas hasil panen menjadi faktor krusial, bukan sekadar kuantitas produksi.
Alternatif solusi sebenarnya mulai tersedia.
Beberapa kelompok tani telah memanfaatkan terpal khusus pengeringan untuk meminimalkan kontak langsung dengan aspal.
Ada pula yang membangun lantai jemur sederhana berbahan semen di area yang jauh dari lalu lintas padat.
Di sisi lain, penggunaan dryer mekanis memang lebih higienis, tetapi membutuhkan modal dan akses listrik yang stabil.
Dalam perspektif pertanian berkelanjutan, peningkatan kualitas pascapanen sama pentingnya dengan peningkatan produktivitas.
Edukasi mengenai keamanan pangan, standar higienitas, dan manajemen pascapanen perlu diperluas agar petani tidak hanya fokus pada penghematan biaya jangka pendek.
Mengeringkan padi di pinggir jalan memang menawarkan efisiensi instan.
Namun, jika dikaitkan dengan keamanan pangan dan kualitas beras jangka panjang, praktik ini menyimpan risiko tersembunyi.
Transformasi kebiasaan sederhana menjadi lebih higienis dapat meningkatkan nilai jual gabah sekaligus menjaga kepercayaan konsumen terhadap produk pertanian lokal.
Pada akhirnya, pilihan metode pengeringan padi bukan sekadar persoalan tradisi atau kebiasaan lama.
Ini adalah keputusan strategis dalam menjaga mutu hasil panen, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan daya saing beras lokal di pasar yang semakin selektif. (FIR)***
























Leave a Reply