Emas Bukanlah Satu-Satunya Aset yang Bisa Jadi Safe Haven! Masih Ada Ini

Emas sering dinilai sebagai instrumen yang aman ketika ketidakpastian ekonomi melanda. Ternyata, masih ada aset lain yang bisa jadi pertimbangan!

Ketika ketidakpastian di pasar meningkat, investor biasanya mencari instrumen yang dianggap aman.

Emas sering menjadi pilihan utama sebagai pelindung nilai, terutama di tengah kebijakan tarif tinggi dari Presiden Donald Trump.

Tak hanya investor individu, bank sentral dan lembaga keuangan besar juga ikut mengoleksi emas.

Namun, berbeda dari kebanyakan, Goldman Sachs justru memilih yen Jepang sebagai instrumen lindung nilai yang lebih unggul.

Mereka memprediksi yen akan menguat ke posisi 140 per dolar AS tahun ini, mencerminkan penguatan sekitar 7% dari posisi saat ini, lebih positif dibanding proyeksi pasar yang berada di level 145.

Sementara itu, harga emas terus bertahan di dekat rekor tertinggi, sempat menyentuh US$3.128 per ons.

Kenaikan harga ini juga mendorong logam mulia lainnya seperti perak, paladium, dan platinum.

Beberapa lembaga keuangan besar seperti Goldman Sachs, Bank of America, dan UBS pun serempak menaikkan target harga emas mereka.

Goldman memprediksi harga emas akhir tahun mencapai US$3.300, naik dari proyeksi sebelumnya US$3.100.

Namun, bukan hanya emas yang menarik perhatian investor. Yen juga dianggap sebagai pilihan ideal untuk mengantisipasi risiko perlambatan ekonomi AS.

Kepala strategi global Goldman Sachs, Kamakshya Trivedi, menyebut yen efektif saat suku bunga riil dan pasar saham AS mengalami tekanan. Hal ini membuat yen menjadi alternatif yang menarik bagi investor.

Prediksi nilai tukar dolar-yen sebelumnya berkisar di angka 155, 150, dan 145 untuk tiga, enam, dan dua belas bulan mendatang. Meski yen sempat melemah hingga menembus 155, kini nilainya kembali menguat ke sekitar 150.

Di sisi lain, Bank of Japan tengah bersiap untuk mengetatkan kebijakan moneternya. Ekspektasi pasar menunjukkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertengahan tahun.

Sementara itu, The Fed diperkirakan akan menurunkan suku bunga hingga tiga kali pada 2025 karena kekhawatiran dampak ekonomi dari tarif Trump.

Dalam konteks ini, yen dinilai sebagai aset pelindung yang cukup solid, meski tetap memiliki tantangan akibat selisih suku bunga yang besar dengan AS.(JC)***