Selat Hormuz Bakal Dibuka Lagi, AS Sebut Kesepakatan Iran-Oman Makin Dekat, Arab Saudi Pakistan Turki Bersatu Militer

Kesepakatan Iran-Oman soal Selat Hormuz makin dekat, sementara Arab Saudi, Pakistan, dan Turki membentuk pakta pertahanan baru.

Pexels/aboodi vesakaran

Situasi geopolitik Timur Tengah memasuki babak baru setelah Amerika Serikat menyatakan bahwa kesepakatan antara Iran dan Oman terkait pembukaan kembali Selat Hormuz semakin mendekati titik final.

Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada Reuters bahwa pembicaraan antara Iran dan Oman menunjukkan perkembangan positif. Kesepakatan tersebut diharapkan dapat membuka kembali jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz yang terganggu sejak perang Amerika Serikat dan Iran pecah pada 28 Februari 2026.

Jika kesepakatan berhasil diterapkan, arus kapal komersial dapat kembali berjalan melalui salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Kondisi tersebut berpotensi meredakan tekanan terhadap pasokan minyak dan energi global.

Namun, proses negosiasi masih menghadapi sejumlah persoalan. Salah satu isu penting berkaitan dengan mekanisme pelayaran, biaya transit, serta pengaturan lalu lintas kapal di kawasan strategis tersebut. Sebelumnya, sumber Reuters melaporkan bahwa Iran menginginkan peran lebih besar dalam mengatur lalu lintas kapal yang melewati wilayahnya.

AS Siap Cabut Blokade Pelabuhan Iran

Washington juga memberikan sinyal bahwa terdapat kemungkinan perubahan kebijakan apabila kesepakatan benar-benar terlaksana. Amerika Serikat disebut siap mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran dengan syarat Tehran memenuhi komitmen yang telah disepakati.

Langkah tersebut dapat menjadi perkembangan penting dalam hubungan AS-Iran setelah berbulan-bulan mengalami ketegangan militer. Meski demikian, Washington menegaskan bahwa setiap langkah akan dilakukan berdasarkan pelaksanaan komitmen Iran, sehingga pembukaan Selat Hormuz masih bergantung pada keberhasilan implementasi kesepakatan.

Arab Saudi, Pakistan, dan Turki Bentuk Pakta Pertahanan

Di tengah upaya diplomatik terkait Selat Hormuz, perubahan besar juga terjadi dalam arsitektur keamanan Timur Tengah. Arab Saudi, Pakistan, dan Turki menandatangani perjanjian pertahanan bersama yang dikenal sebagai Mecca Joint Defense Agreement.

Kesepakatan tersebut menetapkan prinsip bahwa serangan terhadap salah satu negara anggota akan dipandang sebagai serangan terhadap seluruh anggota. Pakta ini menjadi bentuk kerja sama pertahanan yang semakin erat ketika ketegangan regional masih tinggi.

Ketiga negara membawa kekuatan strategis berbeda. Arab Saudi memiliki posisi penting dalam pasar energi global, Pakistan mempunyai kekuatan militer besar, sementara Turki dikenal memiliki industri pertahanan yang berkembang pesat.

Dampak ke Harga Minyak Dunia

Perkembangan di Selat Hormuz menjadi perhatian pasar global karena jalur tersebut sangat penting bagi perdagangan energi. Jika pelayaran kembali normal, risiko gangguan pasokan dapat berkurang dan berpotensi memberikan tekanan terhadap harga minyak.

Sebaliknya, kegagalan kesepakatan Iran-Oman dapat kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan memperbesar volatilitas pasar.

Dengan demikian, perkembangan diplomasi Iran, Oman, dan Amerika Serikat dalam beberapa hari mendatang akan menjadi faktor penting bagi stabilitas Timur Tengah sekaligus pasar energi dunia.(ALF)***