Modus Penipuan Baru Terungkap! Ternyata, Seperti Ini Modusnya

Kebijakan tarif baru AS membawa dampak pada sejumlah aspek. Ketidakpastian dalam perekonomian global juga dapat memicu potensi penipuan!

Kebijakan tarif impor baru yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, turut memicu babak baru dalam perang dagang serta menambah ketidakpastian dalam perekonomian global.

Situasi ini memberikan dampak yang cukup signifikan bagi masyarakat, salah satunya adalah meningkatnya potensi terjadinya penipuan.

Menurut Roman Dedenok, seorang pakar keamanan dari Kaspersky Threat Research, situasi ekonomi yang tidak menentu—baik akibat kebijakan tarif, konflik geopolitik, maupun gangguan pasar—sering kali menjadi ladang subur bagi aksi penipuan.

Dalam kondisi seperti ini, para pelaku kejahatan cenderung memanfaatkan kerentanan yang muncul di berbagai sektor.

Ia menjelaskan bahwa setidaknya terdapat tiga jenis risiko yang timbul akibat kebijakan tarif tersebut, salah satunya adalah meningkatnya penipuan dalam transaksi belanja daring.

Permintaan terhadap barang yang diperkirakan akan mengalami kenaikan harga kerap dimanfaatkan oleh oknum untuk menipu konsumen.

Mereka bisa saja membuat situs palsu atau menyebarkan email penipuan guna mengelabui calon korban.

“Modus yang umum dilakukan termasuk membuat website tiruan yang terlihat meyakinkan, atau menyebar email scam yang menawarkan ‘diskon sebelum tarif diberlakukan. Konsumen yang tergesa-gesa ingin membeli dengan harga murah bisa saja tanpa sadar memberikan data keuangan mereka, yang kemudian disalahgunakan untuk pencurian identitas atau kerugian materi,” ungkap Dedenok.

Risiko berikutnya menyangkut gangguan pada rantai pasok, di mana baik konsumen maupun pelaku usaha mungkin akan mencari pemasok alternatif tanpa melalui proses verifikasi menyeluruh. Kondisi ini membuka celah bagi peredaran produk ilegal atau palsu.

Kaspersky juga menemukan bukti nyata dari risiko ini, salah satunya adalah ditemukannya Trojan bernama “Tiada” yang tertanam di perangkat Android yang dijual di pasaran.

Malware tersebut bekerja pada level firmware, memberi kontrol penuh kepada penyerang terhadap perangkat, sehingga memungkinkan pencurian aset digital, pengambilalihan akun media sosial, hingga penyadapan panggilan telepon.

Jenis risiko terakhir yang diidentifikasi adalah penipuan dalam investasi, yang muncul akibat gejolak di pasar keuangan.

Para pelaku biasanya menyamar sebagai institusi keuangan resmi dan menawarkan janji keuntungan besar untuk menarik korban.

Dalam laporannya, Kaspersky juga membagikan beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terkena penipuan, antara lain:

  1. Memastikan keaslian penjual sebelum melakukan transaksi
  2. Menggunakan metode pembayaran yang memiliki fitur perlindungan dari penipuan
  3. Waspada terhadap tawaran yang terlihat terlalu menggiurkan
  4. Investor disarankan melakukan riset menyeluruh menggunakan sumber terpercaya
  5. Tetap kritis terhadap penawaran yang datang tiba-tiba dan menjanjikan imbal hasil besar(JC)***