Jarang Bergerak Tapi Badan Pegal? Ini Alasan Ilmiah yang Sering Diremehkan Banyak Orang

Tubuh pegal meski jarang bergerak? Ketahui penyebab ilmiah kurang aktivitas fisik dan cara sederhana mencegahnya.

Pexels/Engin Akyurt

Banyak orang mengira rasa pegal hanya muncul setelah aktivitas fisik berat.

Namun kenyataannya, tubuh justru bisa terasa lebih pegal saat kurang aktivitas fisik.

Kondisi ini sering dialami oleh mereka yang terlalu lama duduk, jarang bergerak, atau menjalani rutinitas pasif sehari-hari.

Pegal yang muncul bukan tanpa sebab, melainkan sinyal dari tubuh bahwa ada fungsi alami yang tidak berjalan optimal.

Saat tubuh bergerak, otot berkontraksi dan relaksasi secara bergantian.

Proses ini berfungsi melancarkan aliran darah dan distribusi oksigen ke jaringan tubuh.

Ketika aktivitas fisik minim, aliran darah menjadi lebih lambat, terutama ke area otot dan sendi.

Akibatnya, oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan otot tidak tersalurkan dengan baik, sehingga muncul rasa kaku dan pegal meski tidak melakukan aktivitas berat.

Kurangnya gerakan juga menyebabkan penumpukan sisa metabolisme dalam otot.

Zat sisa ini seharusnya dikeluarkan melalui sirkulasi darah dan sistem limfatik yang aktif saat tubuh bergerak.

Jika tubuh terlalu lama diam, zat sisa tersebut menumpuk dan menimbulkan sensasi nyeri, kaku, atau tidak nyaman. Inilah alasan mengapa tubuh terasa pegal setelah duduk terlalu lama.

Selain itu, otot yang jarang digunakan akan melemah secara perlahan.

Otot yang lemah lebih mudah mengalami ketegangan bahkan saat melakukan aktivitas ringan.

Kondisi ini sering terjadi pada pekerja kantoran atau individu dengan gaya hidup sedentari.

Otot yang tidak aktif kehilangan fleksibilitasnya, sehingga sedikit perubahan posisi saja bisa memicu rasa pegal.

Faktor postur tubuh juga memiliki peran penting.

Kurangnya aktivitas fisik sering disertai kebiasaan duduk dengan posisi yang kurang ideal.

Posisi tersebut memberikan tekanan berlebih pada otot leher, bahu, dan punggung bawah.

Dalam jangka panjang, tekanan statis ini menyebabkan otot bekerja terus-menerus tanpa istirahat, yang akhirnya menimbulkan rasa pegal berkepanjangan.

Sistem saraf pun ikut terpengaruh.

Saat tubuh jarang bergerak, sistem saraf tidak mendapatkan rangsangan yang cukup untuk menjaga koordinasi dan keseimbangan otot.

Akibatnya, otot menjadi lebih sensitif terhadap ketegangan.

Rasa pegal yang muncul sebenarnya merupakan mekanisme peringatan agar tubuh kembali aktif.

Untuk mengurangi pegal akibat kurang aktivitas fisik, tidak selalu diperlukan olahraga berat.

Gerakan ringan seperti berjalan kaki, peregangan, atau berpindah posisi secara rutin sudah cukup membantu.

Aktivitas sederhana ini mampu mengaktifkan otot, melancarkan sirkulasi, dan menjaga elastisitas tubuh.

Kesimpulannya, tubuh terasa pegal saat kurang aktivitas fisik adalah respons alami, bukan tanda kelemahan.

Dengan memahami pentingnya gerak bagi kesehatan otot dan sendi, Anda dapat menjaga tubuh tetap nyaman, bugar, dan bebas pegal dalam aktivitas sehari-hari. (FIR)***