Inilah Asal-Usul Avtur: Dari Penemuan Kerosin hingga Jet Fuel Modern yang Menopang Penerbangan Dunia serta Masa Depan

Pelajari asal-usul avtur: dari minyak lampu kerosin ke jet fuel modern, proses penyulingan, spesifikasi, dan masa depan bahan bakar pesawat.

Pexels/Motomoto

Asal-Usul Avtur: Dari Kerosin Lampu ke Bahan Bakar Jet Modern

Avtur sering disebut aviation turbine fuel atau jet fuel — adalah energi cair yang membuat pesawat terbang. Namun akar sejarahnya sesungguhnya sederhana: avtur berevolusi dari kerosin, produk minyak bumi yang pertama populer sebagai bahan bakar lampu di abad ke-19.

Awal cerita bermula ketika para penemu dan penyuling minyak mulai memisahkan fraksi-fraksi minyak mentah lewat destilasi. Kerosin (fraksi menengah) dipopulerkan untuk penerangan setelah penemuan metode penyulingan modern.

Saat mesin pembakaran turbin gas dikembangkan pada 1930-an dan 1940-an—termasuk karya pionir seperti Frank Whittle dan Hans von Ohain—dibutuhkan bahan bakar dengan sifat khusus: stabil pada temperatur tinggi, titik beku rendah, dan memiliki nilai kalor tinggi. Kerosin yang dimurnikan menjadi pilihan alami karena memenuhi sebagian besar persyaratan ini.

Proses pembuatan avtur modern dimulai dari penyulingan fraksional crude oil. Fraksi kerosin disaring, kemudian menjalani pengolahan lanjutan (seperti hidrodesulfurisasi) untuk mengurangi sulfur dan menstabilkan komponen.

Setelah itu ditambahkan aditif—antioksidan, inhibitor korosi, zat anti-icing dan agen pengurang muatan statis—agar bahan bakar aman dipakai di sistem bahan bakar pesawat dan dalam berbagai kondisi cuaca.

Secara global ada beberapa jenis jet fuel: Jet A (biasa di AS), Jet A-1 (standar internasional dengan titik beku lebih rendah), Jet B (wide-cut, lebih mudah menguap), serta versi militer seperti JP-8. Spesifikasi teknis bahan bakar jet biasanya mengikuti standar internasional seperti ASTM D1655, yang memastikan konsistensi kualitas antar pemasok dan keselamatan operasi penerbangan.

Dalam beberapa dekade terakhir, perhatian bergeser ke keberlanjutan. Industri penerbangan kini mengadopsi Sustainable Aviation Fuel (SAF) — bahan bakar dari biomassa, limbah, atau proses sintetis (e-fuel) — yang bisa dicampur dengan avtur konvensional untuk menurunkan emisi karbon.

Meski teknologi berubah, prinsip dasar tetap: avtur adalah produk penyulingan yang dimurnikan dan dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan ekstrem mesin turbin jet. Tantangan berikutnya adalah mempercepat adopsi SAF agar penerbangan lebih ramah lingkungan tanpa mengorbankan keamanan dan performa.(ALF)***