Ketegangan antara India dan Pakistan semakin meningkat dan menimbulkan kekhawatiran global terkait potensi konflik nuklir.
Kedua negara, yang sama-sama memiliki senjata nuklir, terus terlibat dalam aksi saling serang di wilayah sengketa Kashmir.
Sampai saat ini, meski belum ada penggunaan senjata nuklir, pertempuran intens di wilayah perbatasan telah memunculkan kekhawatiran bahwa konfrontasi besar dapat segera terjadi.
Pada Sabtu pagi (10/5/2025), militer Pakistan menyatakan bahwa tiga fasilitas Angkatan Udara mereka menjadi sasaran serangan India.
“India telah meluncurkan rudal yang mengarah ke Pangkalan Nur Khan, Murid, dan Shorkot,” ujar juru bicara militer Pakistan, Ahmed Sharif Chaudhry, dalam siaran langsung yang ditayangkan televisi nasional.
Menanggapi hal tersebut, Pakistan langsung melancarkan serangan balasan yang diberi nama Operasi Bunyan Ul Marsoos.
Chaudhry menjelaskan bahwa enam rudal balistik ditembakkan dari wilayah perbatasan Punjab oleh India, namun sebagian besar berhasil dihadang oleh sistem pertahanan udara Pakistan.
Salah satu target serangan, Pangkalan Udara Nur Khan yang terletak hanya sekitar 10 kilometer dari Islamabad, menyebabkan kepanikan di kalangan warga Rawalpindi.
Suara ledakan yang keras membangunkan penduduk dan membuat mereka berhamburan keluar rumah.
Tindakan militer India ini menandai peningkatan signifikan dalam ketegangan antara kedua negara yang belum pernah terjadi selama beberapa dekade terakhir.
Pada Rabu (7/10), India menembakkan rudal ke sembilan lokasi di Pakistan dan menewaskan 31 orang.
Aksi ini diklaim sebagai balasan atas serangan teror di Kashmir pada akhir bulan sebelumnya, yang menewaskan 25 warga Hindu dan seorang pemandu wisata. India menuduh Pakistan berada di balik insiden tersebut.
Penargetan terhadap instalasi militer Pakistan berlangsung tak lama setelah India mengklaim bahwa Pakistan telah mengirimkan gelombang drone ke 26 lokasi di negara bagian Punjab dan wilayah Kashmir yang dikuasai India. Ledakan terdengar di sekitar bandara Srinagar, kota utama di Kashmir India.
Militer India menyatakan bahwa sebagian besar drone telah berhasil dicegat, meski tiga orang terluka di distrik Ferozepur, Punjab, dan satu di antaranya dalam kondisi kritis.
India juga menuduh bahwa Pakistan telah meluncurkan sekitar 400 drone pada Kamis (8/5), yang diarahkan ke berbagai kota, instalasi militer, serta tempat ibadah.
Gelombang pertama serangan ini datang pada malam hari dan disusul gelombang kedua pada Jumat pagi (9/5). Sebagai respons, India meluncurkan empat drone untuk menyerang fasilitas militer Pakistan.
Dalam konferensi pers, India mengklaim salah satu drone Pakistan telah menyerang tempat ibadah Sikh (gurdwara), serta beberapa gereja, dan menyebut tindakan ini sangat tidak dapat diterima.
Namun, Pakistan membantah tuduhan tersebut. Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, menyatakan bahwa negaranya tidak melakukan tindakan agresif terhadap wilayah India.
Meski demikian, seorang pejabat keamanan Pakistan mengungkapkan bahwa serangan drone pada malam Kamis adalah bagian dari strategi untuk memperkeruh situasi sebelum meluncurkan serangan balasan secara penuh.
Pakistan menyebut bahwa serangan yang dilakukan India merupakan deklarasi perang dan menegaskan niat untuk membalas.
“Kami tidak akan tinggal diam terhadap kerusakan yang disebabkan oleh India. Mereka akan bertanggung jawab,” kata juru bicara militer Pakistan, Ahmed Sharif Chaudhry.
Lebih lanjut, Pakistan memaparkan bahwa mereka mengerahkan lebih dari 100 pesawat untuk menghadapi serangan udara India pada Rabu (7/5). Pertempuran udara berlangsung selama sekitar satu jam.
Dalam klaimnya, Pakistan mengatakan telah menjatuhkan lima jet tempur India menggunakan sistem pertahanan udara buatan China.
India belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan tersebut, namun puing-puing pesawat, termasuk dari jet tempur Rafale, ditemukan di Kashmir dan Punjab yang dikuasai India.(JC)***
























Leave a Reply