CEO Eni Peringatkan Harga Minyak Bisa Meledak Awal 2027, Konflik Timur Tengah Jadi Ancaman Ekonomi Dunia Serius Besar

CEO Eni memperingatkan harga minyak dunia bisa melonjak pada awal 2027 jika konflik Timur Tengah terus berlanjut.

Pexels/Tom Fisk

Harga minyak dunia diperkirakan masih menghadapi tekanan besar dalam beberapa bulan ke depan. CEO perusahaan energi asal Italia, Eni, Claudio Descalzi, memperingatkan bahwa pasar minyak global berisiko keluar dari kisaran harga yang selama ini relatif stabil apabila konflik di Timur Tengah terus berlanjut hingga awal 2027. Menurutnya, kondisi geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda dapat memicu lonjakan harga energi sekaligus memberikan dampak besar terhadap perekonomian global.

Dalam wawancara dengan media Italia, Descalzi menjelaskan bahwa selama beberapa waktu terakhir harga minyak bergerak di kisaran 80 hingga 100 dolar AS per barel. Stabilitas tersebut masih dapat dipertahankan karena sejumlah negara menggunakan cadangan minyak strategis untuk menjaga keseimbangan pasokan. Namun, apabila konflik di kawasan Timur Tengah terus berkepanjangan dan mengganggu distribusi energi dunia, pasar diperkirakan tidak lagi mampu bertahan dalam rentang harga tersebut.

Menurut Descalzi, risiko terbesar bukan hanya kenaikan harga minyak, tetapi juga dampak berantai terhadap inflasi global. Ketika harga energi meningkat, biaya produksi dan distribusi berbagai sektor ikut naik sehingga harga barang dan jasa berpotensi mengalami kenaikan. Kondisi tersebut dapat mengurangi daya beli masyarakat, memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan menekan permintaan energi dalam jangka menengah.

Peringatan ini muncul ketika kawasan Timur Tengah masih dibayangi ketidakpastian akibat konflik yang melibatkan Iran serta meningkatnya risiko terhadap jalur pelayaran internasional. Meskipun beberapa upaya diplomasi terus dilakukan, para pelaku pasar tetap mencermati potensi gangguan terhadap distribusi minyak, khususnya melalui Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur pengiriman energi paling penting di dunia. Gangguan sekecil apa pun di kawasan tersebut dapat langsung memengaruhi harga minyak internasional.

Descalzi menilai dunia perlu mempercepat diversifikasi sumber energi agar tidak terlalu bergantung pada satu kawasan. Menurutnya, pemerintah dan perusahaan energi harus meningkatkan investasi pada berbagai sumber pasokan baru, termasuk gas alam, energi terbarukan, serta infrastruktur distribusi yang lebih beragam. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan ketahanan energi global sekaligus mengurangi risiko apabila terjadi gangguan geopolitik di masa depan.

Eni sendiri merupakan salah satu perusahaan energi internasional yang memiliki operasi di berbagai wilayah, termasuk Afrika, Timur Tengah, dan Eropa. Karena itu, perusahaan memiliki kepentingan besar dalam menjaga stabilitas pasar energi dunia. Descalzi menegaskan bahwa keamanan pasokan menjadi faktor utama yang harus dijaga agar kebutuhan energi global tetap terpenuhi tanpa memicu lonjakan harga yang berlebihan.

Sejumlah lembaga internasional juga memiliki pandangan serupa. Badan Energi Internasional (IEA) sebelumnya memperingatkan bahwa eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran dapat mengganggu proyeksi surplus pasokan minyak pada 2027. Jika ketegangan kembali meningkat atau distribusi minyak melalui Selat Hormuz terganggu, keseimbangan pasar yang selama ini diperkirakan akan berubah secara signifikan.

Bagi negara-negara pengimpor minyak, termasuk banyak negara di Asia, kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya impor energi, memperbesar tekanan terhadap inflasi, dan memengaruhi nilai tukar mata uang. Sementara itu, bagi negara pengekspor minyak, harga yang lebih tinggi memang dapat meningkatkan pendapatan, tetapi tetap dibayangi risiko perlambatan ekonomi global akibat melemahnya permintaan.

Meski pasar minyak saat ini masih relatif stabil, peringatan dari CEO Eni menunjukkan bahwa keseimbangan tersebut sangat bergantung pada perkembangan situasi geopolitik. Apabila konflik di Timur Tengah tidak segera menemukan solusi, harga minyak dunia berpotensi melonjak keluar dari kisaran saat ini pada awal 2027. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi sektor energi, tetapi juga dapat berdampak pada inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas pasar keuangan di berbagai negara.(ALF)***