Publik sempat dibuat bingung. Pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat tahun 2025, sebenarnya 3,22 persen atau 12,49 persen?
Jawabannya: keduanya benar, tetapi mengukur hal yang berbeda.
Data Badan Pusat Statistik NTB menjelaskan, angka 12,49 persen merupakan pertumbuhan Triwulan IV 2025 dibandingkan Triwulan IV 2024 atau year-on-year. Angka ini mencerminkan lonjakan aktivitas ekonomi di akhir tahun, dikutip dari Humas NTB, pada Rabu, 18/02/2026.
Sementara 3,22 persen adalah pertumbuhan ekonomi kumulatif sepanjang 2025, atau rata-rata kinerja selama empat triwulan penuh. Artinya, 12,49 persen adalah momentum kebangkitan, sedangkan 3,22 persen adalah potret perjalanan satu tahun.
Pada Triwulan I dan II 2025, ekonomi NTB sempat terkontraksi. Bukan karena pertanian melemah — justru panen raya mendorong sektor ini tumbuh tinggi — melainkan karena turunnya produksi pertambangan yang menjadi kontributor besar PDRB.
Memasuki Triwulan III, smelter mulai beroperasi dan ekspor emas kembali berjalan. Di Triwulan IV, pertumbuhan melonjak hingga 12,49 persen. Pola ini menunjukkan NTB bergerak dari fase koreksi menuju fase pemulihan.
Bahkan jika sektor tambang bijih logam dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan ekonomi NTB justru mencapai 8,33 persen secara kumulatif dan 13,7 persen secara tahunan. Artinya, sektor non-tambang seperti pertanian, perdagangan, industri pengolahan, dan konsumsi rumah tangga menunjukkan kinerja yang solid.
Dalam konteks satu tahun kepemimpinan Lalu Muhamad Iqbal dan Indah Dhamayanti Putri, tahun 2025 disebut sebagai tahun transisi dan peletakan fondasi transformasi ekonomi.
Awalnya, ekonomi NTB bahkan sempat berada di minus 1,47 persen akibat persoalan teknis smelter. Namun hingga akhir tahun, berhasil ditutup di angka positif 3,22 persen. Jika dihitung dari titik terendah, terjadi lonjakan 4,69 poin dalam satu tahun — enam kali lipat dari kenaikan yang direncanakan dalam RPJMD.
Di sisi lain, indikator sosial juga membaik. Konsumsi rumah tangga tumbuh 4,51 persen, pengangguran menurun, dan jumlah pekerja formal meningkat. PDRB per kapita naik menjadi sekitar Rp33,67 juta per orang.
Industri pengolahan bahkan tumbuh 137,78 persen, jasa keuangan meningkat 28,12 persen, dan perdagangan naik 12,29 persen. Lonjakan ini dipicu mulai beroperasinya smelter dan agenda hilirisasi yang mulai memberi dampak nyata.
Sektor non-tambang seperti pertanian, UMKM, jasa, dan pariwisata juga menunjukkan penguatan. Produksi padi meningkat, tamu hotel naik lebih dari 30 persen, dan penumpang udara bertambah sekitar 10 persen.
Maknanya jelas: NTB tidak hanya tumbuh karena tambang, tetapi mulai membangun basis ekonomi yang lebih inklusif dan menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Pertumbuhan 3,22 persen adalah catatan perjalanan setahun. Pertumbuhan 12,49 persen adalah tanda kebangkitan di akhir tahun. Keduanya bukan kontradiksi, melainkan dua sisi dari fase transisi ekonomi NTB.
Kini, tantangan berikutnya adalah menjaga momentum ini tetap konsisten, berkelanjutan, dan benar-benar dirasakan masyarakat luas.(ALF)***
























Leave a Reply