Maskapai penerbangan WestJet, salah satu operator terbesar di Kanada, mulai membatalkan sejumlah penerbangan sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi aksi mogok awak kabin. Keputusan tersebut diambil untuk mengurangi dampak operasional apabila perundingan dengan serikat pekerja gagal menghasilkan kesepakatan sebelum batas waktu yang telah ditentukan.
Hingga awal Agustus 2026, maskapai telah membatalkan 86 penerbangan sebagai bagian dari proses penyesuaian jaringan operasional. WestJet menyatakan langkah ini dilakukan secara bertahap agar perusahaan dapat mengelola armada dan penumpang dengan lebih baik jika aksi mogok benar-benar berlangsung. Meski demikian, perusahaan menegaskan negosiasi dengan serikat pekerja masih terus berjalan dan peluang tercapainya kesepakatan tetap terbuka.
Perselisihan terjadi antara WestJet dan serikat pekerja yang mewakili sekitar 4.400 awak kabin. Salah satu tuntutan utama adalah perubahan sistem pembayaran kerja. Serikat menginginkan awak kabin menerima upah sejak mulai bertugas di bandara hingga menyelesaikan seluruh tugas setelah penerbangan berakhir. Saat ini, sebagian besar kompensasi masih dihitung berdasarkan waktu pesawat bergerak atau berada di udara, sehingga sejumlah aktivitas penting di darat dinilai belum mendapatkan bayaran yang memadai.
Selain isu kompensasi, pekerja juga meminta peningkatan kesejahteraan secara keseluruhan. Mereka menilai biaya hidup yang terus meningkat, terutama di kota-kota besar Kanada, membuat skema penghasilan saat ini tidak lagi mencerminkan beban kerja yang dijalankan setiap hari. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan utama mengapa negosiasi berlangsung cukup alot.
Bagi WestJet, menjaga kelangsungan operasional selama musim liburan menjadi prioritas. Periode awal Agustus merupakan salah satu waktu tersibuk dalam kalender perjalanan di Kanada. Setiap hari maskapai mengoperasikan lebih dari 600 penerbangan yang melayani sekitar 75.000 penumpang, sehingga gangguan kecil sekalipun dapat berdampak luas terhadap jadwal perjalanan domestik maupun internasional.
Manajemen maskapai menjelaskan bahwa pembatalan lebih awal bertujuan memberikan waktu bagi pelanggan untuk mengubah jadwal perjalanan atau mencari alternatif penerbangan. Langkah ini dinilai lebih baik dibanding membatalkan penerbangan secara mendadak ketika aksi mogok telah dimulai.
Di sisi lain, serikat pekerja menyatakan bahwa mereka masih berharap penyelesaian dapat dicapai melalui dialog. Mereka menegaskan aksi mogok bukan tujuan utama, melainkan langkah terakhir apabila tidak ada kemajuan berarti dalam proses perundingan. Pemerintah Kanada juga telah menunjuk mediator khusus untuk membantu kedua pihak mencapai kesepakatan yang dapat diterima bersama.
Situasi ini menjadi perhatian industri penerbangan karena terjadi saat permintaan perjalanan sedang tinggi. Gangguan operasional pada salah satu maskapai terbesar di Kanada berpotensi memengaruhi jadwal penerbangan, koneksi internasional, hingga aktivitas pariwisata. Meski beberapa layanan regional dan penerbangan yang dioperasikan mitra maskapai dipastikan tetap berjalan normal, sebagian penumpang tetap harus bersiap menghadapi kemungkinan perubahan jadwal.
Para pengamat menilai hasil negosiasi dalam beberapa hari ke depan akan menjadi penentu. Jika kesepakatan berhasil dicapai, WestJet dapat segera memulihkan jadwal penerbangannya. Namun apabila perundingan kembali menemui jalan buntu, jumlah pembatalan penerbangan diperkirakan akan bertambah dan memengaruhi lebih banyak penumpang.
Dengan musim liburan yang sedang berlangsung, seluruh perhatian kini tertuju pada meja perundingan. Baik pihak maskapai maupun serikat pekerja sama-sama menyatakan komitmennya untuk mencari solusi terbaik, sehingga gangguan terhadap layanan penerbangan dapat diminimalkan dan kepercayaan penumpang tetap terjaga.(ALF)***
























Leave a Reply