Berkeringat saat berolahraga sering dianggap sebagai tanda bahwa tubuh bekerja dengan baik.
Namun, tidak sedikit orang yang tetap hampir tidak mengeluarkan keringat meski telah melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga tinggi.
Kondisi ini kerap menimbulkan pertanyaan, apakah tubuh mengalami gangguan atau justru merupakan hal yang normal?
Secara fisiologis, keringat merupakan mekanisme alami tubuh untuk menjaga suhu tetap stabil.
Ketika suhu tubuh meningkat akibat aktivitas fisik, otak akan mengirimkan sinyal kepada kelenjar keringat agar mengeluarkan cairan ke permukaan kulit.
Saat keringat menguap, panas tubuh ikut dilepaskan sehingga suhu tetap berada pada batas normal.
Meski demikian, jumlah keringat setiap orang tidaklah sama. Faktor genetik menjadi salah satu penyebab utama.
Ada individu yang memang memiliki jumlah kelenjar keringat lebih sedikit atau respons tubuh yang berbeda terhadap peningkatan suhu.
Selain itu, suhu lingkungan, tingkat kelembapan udara, usia, jenis kelamin, kondisi kebugaran, hingga tingkat hidrasi juga memengaruhi banyak atau sedikitnya keringat yang dihasilkan.
Seseorang yang baru memulai rutinitas olahraga juga cenderung berkeringat lebih sedikit dibandingkan mereka yang sudah terbiasa berlatih.
Seiring meningkatnya kebugaran, tubuh akan beradaptasi sehingga sistem pendinginan bekerja lebih efisien.
Atlet profesional bahkan sering mulai berkeringat lebih cepat karena tubuh mereka telah terlatih mengatur suhu secara optimal.
Namun, ada kondisi yang perlu diwaspadai apabila tubuh hampir tidak berkeringat sama sekali meskipun melakukan aktivitas berat di lingkungan panas.
Kondisi ini dikenal sebagai hipohidrosis atau berkurangnya kemampuan tubuh memproduksi keringat.
Dalam kasus yang lebih berat disebut anhidrosis, yaitu ketika tubuh tidak mampu berkeringat pada sebagian besar area kulit.
Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh kerusakan saraf, penyakit kulit tertentu, efek samping beberapa obat, diabetes, hingga gangguan pada kelenjar keringat.
Karena tubuh kehilangan kemampuan melepaskan panas secara efektif, risiko mengalami heat exhaustion bahkan heat stroke menjadi lebih tinggi.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain tubuh terasa sangat panas, pusing, kulit memerah, denyut jantung meningkat, mual, hingga kebingungan.
Sebaliknya, sedikit berkeringat bukan berarti pembakaran kalori menjadi lebih rendah.
Banyak orang masih menganggap bahwa semakin banyak keringat berarti semakin banyak lemak yang terbakar.
Faktanya, keringat hanya menunjukkan proses pendinginan tubuh, bukan indikator jumlah kalori yang digunakan selama olahraga.
Penurunan berat badan setelah berkeringat deras umumnya berasal dari hilangnya cairan tubuh dan akan kembali setelah kebutuhan cairan terpenuhi.
Agar tubuh tetap aman saat berolahraga, pastikan kebutuhan cairan selalu tercukupi sebelum, selama, dan setelah latihan.
Gunakan pakaian yang mampu menyerap keringat, pilih waktu olahraga ketika suhu lingkungan tidak terlalu panas, serta hentikan aktivitas apabila muncul tanda-tanda tubuh mengalami kepanasan.
Bila Anda hampir tidak pernah berkeringat disertai keluhan seperti pusing, kram, atau intoleransi terhadap panas, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Kesimpulannya, tidak semua orang akan berkeringat dalam jumlah yang sama saat berolahraga.
Pada sebagian orang kondisi tersebut masih tergolong normal karena dipengaruhi faktor genetik dan adaptasi tubuh.
Namun, jika tubuh sama sekali tidak berkeringat saat melakukan aktivitas berat, terutama di cuaca panas, kondisi ini tidak boleh diabaikan karena dapat meningkatkan risiko gangguan akibat panas.
Mengenali penyebabnya sejak dini merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan dan keselamatan saat berolahraga. (FIR)***




















Leave a Reply