Duduk Lama Sambil Scroll Media Sosial Diam-Diam Picu Nyeri Leher yang Sering Diabaikan

Duduk lama sambil scroll media sosial bisa memicu nyeri leher. Kenali penyebab, risiko, dan cara mencegahnya sejak dini.

Pexels/Los Muertos Crew

Di era digital saat ini, duduk lama sambil scroll media sosial sudah menjadi kebiasaan yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Mulai dari bekerja, menunggu, hingga sekadar beristirahat, ponsel hampir selalu berada di tangan.

Tanpa disadari, kebiasaan ini sering dilakukan dalam posisi duduk yang kurang ideal, terutama dengan kepala menunduk dalam waktu lama.

Kondisi inilah yang perlahan meningkatkan risiko nyeri leher.

Secara alami, leher berfungsi menopang kepala yang beratnya bisa mencapai beberapa kilogram.

Saat posisi duduk tegak, beban ini masih dapat ditoleransi oleh otot dan tulang leher.

Namun, ketika kepala terus menunduk akibat fokus pada layar ponsel, tekanan pada leher meningkat berkali-kali lipat.

Posisi ini dikenal sebagai postur leher menunduk berkepanjangan, yang kerap muncul saat seseorang asyik scroll media sosial.

Duduk lama sambil scroll media sosial juga sering membuat tubuh berada dalam posisi statis.

Otot leher dan bahu jarang bergerak, sehingga aliran darah menjadi kurang optimal. Akibatnya, otot mudah tegang dan terasa kaku.

Dalam jangka pendek, kondisi ini mungkin hanya menimbulkan rasa pegal ringan.

Namun jika dibiarkan terus-menerus, nyeri leher dapat muncul lebih sering dan bertahan lebih lama.

Selain itu, kebiasaan menatap layar dalam jarak dekat membuat banyak orang tanpa sadar memajukan kepala ke depan.

Posisi ini menyebabkan otot leher bagian belakang bekerja lebih keras untuk menahan beban kepala. Seiring waktu, ketegangan otot dapat menjalar hingga bahu dan punggung atas.

Tidak jarang, nyeri leher yang awalnya ringan berkembang menjadi rasa tidak nyaman yang mengganggu aktivitas harian.

Menariknya, nyeri leher akibat duduk lama sambil scroll media sosial sering kali tidak langsung dikaitkan dengan kebiasaan tersebut.

Banyak orang mengira penyebabnya adalah kelelahan biasa atau posisi tidur yang salah.

Padahal, pola duduk harian dan durasi penggunaan ponsel memiliki peran besar dalam memicu keluhan ini.

Untuk mengurangi risiko nyeri leher, langkah sederhana dapat mulai diterapkan.

Mengatur posisi layar sejajar dengan pandangan mata dapat membantu mengurangi tekanan pada leher.

Selain itu, biasakan untuk melakukan peregangan ringan setiap 20–30 menit saat duduk lama.

Gerakan sederhana seperti memutar leher atau menarik bahu ke belakang dapat membantu merilekskan otot yang tegang.

Mengurangi durasi scroll media sosial juga menjadi langkah penting.

Memberi jeda pada tubuh untuk bergerak tidak hanya bermanfaat bagi leher, tetapi juga bagi kesehatan secara keseluruhan.

Dengan kesadaran akan postur duduk dan kebiasaan digital, nyeri leher akibat duduk lama dapat dicegah sejak dini.

Pada akhirnya, duduk lama sambil scroll media sosial bukan sekadar kebiasaan sepele.

Jika tidak dikendalikan, aktivitas ini dapat berdampak nyata pada kesehatan leher.

Mengubah kebiasaan kecil hari ini dapat membantu menjaga kenyamanan dan kualitas hidup dalam jangka panjang. (FIR)***