
BANGUN IDE – Seperti yang bisa ditebak dari namanya, Ginza Line milik Tokyo Metro memiliki pemberhentian di kawasan elit Ginza. Jalur ini juga melewati Omotesando, yang dikenal dengan butik dan toko mode ternama di sekitar Harajuku, serta Ueno, yang populer dengan taman dan museumnya.
Kombinasi lokasi tersebut menjadikan Ginza Line salah satu rute metro paling praktis untuk kegiatan wisata maupun rekreasi di Tokyo. Jalur ini membentang dari barat daya ke timur laut pusat kota, menyediakan banyak titik transfer menuju berbagai jalur kereta lainnya.
Meskipun terkenal karena kepraktisannya, jalur ini tidak selalu mudah digunakan. Salah satu kendalanya adalah fakta bahwa Ginza Line merupakan jalur metro tertua di Tokyo, bahkan di seluruh Asia.
Masalahnya bukan pada usia keretanya, karena armada telah beberapa kali diganti selama hampir satu abad beroperasi.
Namun, penumpang yang sering menaikinya mungkin memperhatikan bahwa gerbong Ginza Line lebih sempit dibandingkan dengan jalur metro lainnya di Tokyo.
Saat pertama kali dibangun, kota Tokyo masih jauh lebih kecil dari sekarang, sehingga terowongan yang digali pun berukuran lebih kecil dari standar modern. Akibatnya, ukuran kereta juga harus disesuaikan, yang berimbas pada meningkatnya kepadatan penumpang.
Menambah jumlah gerbong bukan solusi sederhana, sebab perpanjangan kereta menuntut perpanjangan peron, yang berarti harus dilakukan penggalian baru. Walau demikian, Tokyo Metro telah menyiapkan langkah alternatif untuk mengurangi kepadatan penumpang, yakni dengan menambah frekuensi perjalanan.
Mulai bulan depan, Tokyo Metro akan mengoperasikan 58 perjalanan tambahan setiap hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional, antara pukul 9 pagi hingga 6 sore. Dengan penambahan ini, waktu tunggu antar kereta akan berkurang dari empat menit menjadi sekitar tiga menit dua puluh detik, sehingga diharapkan arus penumpang di peron menjadi lebih lancar dan tidak menimbulkan penumpukan. (ALF)***























Leave a Reply