
BANGUN IDE – Jika ingin keluar dari hiruk pikuk kawasan wisata populer di Kanto dan Kansai, Prefektur Akita menawarkan pesona pedesaan yang masih alami. Mulai dari keindahan lanskap alam, kerajinan tradisional, festival meriah, hingga kuliner khas, Akita siap memberi pengalaman berbeda bahkan bagi pelancong berpengalaman sekalipun.
Akses Menuju Akita
Terletak di wilayah utara Tohoku, Akita mungkin jauh dari pusat keramaian, tetapi tetap mudah dijangkau dari Tokyo. Perjalanan udara ke Bandara Akita hanya memakan waktu kurang dari satu jam untuk tiba di Akita City, ibu kota prefektur. Jika memilih jalur darat, kereta cepat JR Akita Shinkansen akan membawa Anda dari Tokyo ke Akita dalam waktu sekitar empat jam.
Menyatu dengan Alam Akita
Tidak lengkap berkunjung ke Akita tanpa menikmati panorama alamnya yang melimpah. Baik berjalan santai maupun mendaki gunung yang menantang, pilihan aktivitas luar ruang di sini sangat beragam.
Gunung Akita-Komagatake
Berada di perbatasan Prefektur Akita dan Iwate, Gunung Akita-Komagatake merupakan gugusan beberapa puncak, di antaranya Odake, Medake, dan Onamedake. Gunung ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Towada-Hachimantai, menjadikannya destinasi populer untuk pendaki pemula hingga berpengalaman. Dari Stasiun JR Tazawako, tersedia bus menuju pos pendakian di stasiun kedelapan. Perjalanan naik-turun gunung rata-rata memakan waktu tiga jam, dengan suguhan pemandangan tanaman alpine dan kolam Amida yang menawan.
Ngarai Dakigaeri
Terkenal dengan aliran sungainya yang berwarna biru jernih, Ngarai Dakigaeri membentang di antara hutan lebat yang memamerkan keindahan warna hijau segar di musim semi dan dedaunan merah menyala saat musim gugur. Area ini biasanya ditutup dari akhir November hingga awal April, tetapi dapat dinikmati sepanjang musim semi hingga musim gugur. Jalur jalan kaki sepanjang 30 menit di tepi sungai membawa wisatawan melintasi Jembatan Kami no Iwa, titik favorit untuk menikmati panorama. Ada pula jalur kecil menuju air terjun Mikaeri no taki setinggi 30 meter yang namanya berarti “menoleh kembali untuk melihat sekali lagi.”
Sejarah dan Seni Tradisional Akita
Selain keindahan alam, Akita juga kaya akan warisan budaya dan sejarah. Dari kota kastil yang masih lestari hingga kerajinan tangan bernilai seni, daerah ini menjadi tujuan ideal bagi pecinta sejarah dan budaya Jepang.
Kota Kastil Kakunodate
Kakunodate pernah menjadi pusat samurai penting di Akita sejak abad ke-17. Meskipun kastilnya sudah tidak tersisa, kawasan samurai dan pedagang masih terjaga dengan baik, menampilkan wajah kehidupan di era Edo (1603–1868). Enam rumah samurai di sini terbuka untuk umum, termasuk Rumah Aoyagi yang juga difungsikan sebagai museum. Pada musim semi, Kakunodate semakin memikat dengan ratusan pohon shidarezakura (sakura menjuntai) yang bermekaran, hingga kota ini dijuluki sebagai “Kyoto Kecil.”























Leave a Reply