
Bangun Ide – Kita telah memasuki pertengahan tahun 2025—dan tahun ini memang penuh dinamika. Namun, tahukah Anda bahwa ada sebuah ritual Shinto khusus yang diyakini dapat membersihkan energi negatif yang terkumpul selama enam bulan pertama?
Kemungkinan besar banyak yang belum tahu, karena menurut survei, sekitar 80 persen masyarakat Jepang belum pernah mendengar tentangnya, dan 14 persen lainnya hanya mengetahui sekilas.
Tradisi ini disebut Nagoshi no Harae. Pada hari perayaannya, beberapa kuil Shinto akan menempatkan sebuah cincin besar yang terbuat dari jerami, dikenal sebagai chinowa, di dekat pintu masuk kuil. Konon, melintasi cincin ini dipercaya dapat membawa penyucian diri.
Selain itu, ada pula tradisi hitogata, yakni boneka kertas yang mewakili bentuk manusia secara simbolis. Dengan menuliskan nama dan usia Anda pada boneka tersebut, lalu mengusapkannya ke tubuh atau meniupkannya, diyakini energi negatif akan berpindah ke boneka.
Setelah itu, boneka tersebut ditinggalkan di kuil, yang nantinya akan memusnahkan boneka beserta energi buruk yang diserapnya.
Semua ini berakar dari konsep Shinto yang dikenal sebagai kegare, yaitu sejenis energi negatif atau ketidakmurnian spiritual yang bisa menempel pada seseorang.
Energi ini tidak hanya timbul akibat perbuatan buruk, tetapi juga bisa datang dari hal-hal di luar kendali, seperti menghadiri pemakaman. Dalam kehidupan sehari-hari, sangat sulit menghindari kegare sepenuhnya, dan jika terlalu banyak menumpuk, dipercaya dapat membawa kesialan.
Karena itu, membersihkan diri dari kegare secara berkala dianggap sebagai langkah bijak untuk mencegah datangnya nasib buruk.
Salah satu metode untuk melakukannya adalah melalui ritual tahunan Nagoshi no Harae. Namun, karena hanya dilangsungkan sekali setahun dan tahun ini jatuh pada hari Senin, banyak orang mungkin kesulitan meluangkan waktu untuk mengikutinya.
Menariknya, informasi ini dibagikan oleh Takami Kato, seorang peramal sekaligus penulis buku Money Luck Yearbook: 365 Days of Money Attracting Behavior Manga Manual. Ia menerapkan filosofi Shinto yang tidak berbahaya sebagai cara yang diyakini bisa meningkatkan keberuntungan.
Mengurangi kegare bisa dilakukan dengan mengucapkan “maaf” atas kesalahan, meski tidak ditujukan langsung ke siapa pun.
Serta mengucapkan “terima kasih” kepada diri sendiri karena telah bertahan. Intinya adalah menjaga pola pikir positif dan kesehatan, karena ritual penyucian tidak bisa menggantikan pentingnya menjaga tubuh, termasuk mengontrol asupan garam. (ALF)***























Leave a Reply