Australia menjadi salah satu negara yang diminati oleh warga Indonesia dalam berinvestasi di sektor properti.
Daya tariknya beragam, mulai dari lokasinya yang relatif dekat dengan Indonesia hingga pasar properti yang memiliki prospek cerah.
Menurut President Director Xavier Marks, Daniel Sunyoto, daya beli masyarakat Indonesia sebenarnya cukup tinggi.
Selama tiga dekade berkarier di industri properti, ia mengamati bahwa banyak warga Indonesia tidak hanya memiliki properti di dalam negeri, tetapi juga berinvestasi di Australia dengan membeli rumah kedua sebagai aset.
“Salah satu alasan utama mengapa Australia menarik bagi investor Indonesia adalah jaraknya yang relatif dekat. Dari Jakarta atau Surabaya, penerbangan ke Australia hanya memakan waktu sekitar enam hingga tujuh jam,” ungkap Daniel dalam sebuah konferensi pers di kawasan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (19/3/2025).
Selain itu, banyak orang tua di Indonesia yang mengirim anak mereka untuk menempuh pendidikan di luar negeri lebih memilih Australia dibandingkan Eropa atau Amerika Serikat. Stabilitas ekonomi dan politik yang tinggi menjadi faktor utama di balik keputusan tersebut.
Alasan Investasi Properti di Australia
Sejalan dengan pernyataan tersebut, Executive President of Xavier Marks Sydney CBD, Hartono Poernomo, mengungkapkan bahwa sebagian besar warga Indonesia membeli properti di Australia sebagai tempat tinggal bagi anak mereka yang sedang bersekolah di sana.
Selain itu, investasi di properti Australia juga menjadi pilihan karena harga sewa yang tinggi serta pertumbuhan nilai properti yang stabil.
“Dari sisi investasi, harga sewa properti di Australia sangat tinggi jika dibandingkan dengan di Indonesia. Kenaikan nilai properti juga cukup stabil, dengan pertumbuhan sekitar 100 persen dalam kurun waktu sepuluh tahun di berbagai kota di Australia,” jelas Hartono.
Ia juga menambahkan bahwa keuntungan dari hasil penyewaan properti di Australia cukup besar.
Harga sewa untuk kamar kos di negara tersebut berkisar antara AU$ 300 hingga AU$ 350 per minggu.
Berbeda dengan Indonesia yang menerapkan sistem pembayaran sewa bulanan atau tahunan, sistem penyewaan di Australia umumnya dilakukan secara mingguan karena harga properti yang relatif mahal.
Selain itu, tingkat kekosongan properti di Australia sangat rendah, hanya sekitar 1 persen. Properti yang tersedia pun umumnya dapat tersewa dalam waktu rata-rata empat minggu.
“Di Australia, kepemilikan properti bersifat hak milik, bukan hak sewa. Semua jenis properti dapat dibeli oleh siapa saja, tanpa memandang kewarganegaraan. Bahkan, jika properti tersebut disewakan, rata-rata dalam waktu empat minggu sudah memiliki penyewa. Begitu pula jika dijual, biasanya dalam jangka waktu yang sama properti tersebut sudah laku di pasaran,” tambahnya.
Jenis Properti yang Bisa Dibeli di Australia
Investasi properti bagi warga Indonesia di Australia tidak hanya terbatas pada apartemen atau rumah.
Menurut Hartono, orang Indonesia juga dapat membeli tanah kosong di berbagai kota di Australia untuk kemudian dibangun menjadi rumah tinggal atau kos-kosan.
“Salah satu konsep properti yang cukup populer di Australia adalah granny flat atau dual occupancy. Ini adalah satu rumah dengan satu atap tetapi memiliki dua pintu, yang memungkinkan satu bagian rumah disewakan sementara bagian lainnya bisa ditempati sendiri atau dijual,” jelasnya.
Strategi investasi yang paling menguntungkan, menurut Hartono, adalah membeli rumah tua atau properti second-hand, kemudian merobohkannya dan membangun bangunan baru untuk dijual kembali. Cara ini bisa meningkatkan nilai properti hingga 30 persen setelah bangunan selesai dibangun.
Bagi mereka yang mencari opsi investasi yang lebih sederhana, dapat memilih paket house and land dari pengembang terpercaya.
Melalui skema ini, investor bisa membeli tanah sekaligus desain rumah yang disediakan oleh pengembang.
“Nilai utama dari sebuah properti ada pada tanahnya, bukan pada bangunannya. Apartemen yang berada di pusat kota (CBD) cenderung tidak mengalami kenaikan nilai yang signifikan karena tidak memiliki lahan. Sebaliknya, rumah dengan tanah di area suburban memiliki potensi pertumbuhan nilai yang jauh lebih besar dalam sepuluh tahun ke depan,” pungkasnya.(JC)***
























Leave a Reply